Senin, 30 November 2009

Nokia Chief Strategist: Apple will remain a niche player in smartphones, just like in computers
Monday, November 30, 2009 - 03:43 PM EST
Mobile phone world unit sales leader Nokia recognizes errors in execution that have led to its eroding market share, according to a German language report by Sandra Louven for Handelsblatt. "In the past, Nokia focused too much on technical issues, instead of optimizing the design of our phones," said Anssi Vanjoki, Nokia's chief strategist. "But I am very confident that we now know what we must do, namely to build cell phones that are easy to use and that look good."

Louven reports, "The Finns stand with a market-leading share of nearly 37 percent, but the new competition from Apple and from BlackBerry-maker Research in Motion in the retail business has the giant duly concerned; especially in the high-margin smartphone business."

Louven reports, "'Technically, the Nokia phones were much better than the iPhone,' said Carolina Milanesi, the market researcher Gartner. 'But were too complicated to use.' In the coming years, ease of use will decide success and failure, said Vanjoki."

Louven reports, "Still, Vanjoki expects that, in the end, Apple will amount to little importance in the market. 'The development of mobile phones will be similar in PCs,' predicts the chief strategist. 'Even with the Mac, Apple has attracted much attention at first, but they have still remained a niche manufacturer. That will be in mobile phones as well.'"

The full article via Google German to English translation is here.

MacDailyNews Take: With a "Chief Strategist" like that, it's no wonder Nokia is hemorrhaging market share, euros, and employees like there's no tomorrow; because, for them, there likely isn't. This quote ranks right down there with beleaguered Palm's then-CEO Ed Colligan who said in November 2006, "We've learned and struggled for a few years here figuring out how to make a decent phone. PC guys are not going to just figure this out. They're not going to just walk in." Ed presaged his company's fate by disappearing into obscurity earlier this year. The quote for which Vanjoki will likely be best-remembered (you might as well just start chiseling now, headstone carver) has been iCal'ed for copious and gleeful future use.
7 ALASAN PERLU MINUM AIR KELAPA

Sejak lama, kelapa dikenal sebagai tumbuhan kaya manfaat. Nyaris tidak ada bagian dari tanaman kelapa yang tidak bermanfaat bagi kehidupan. Namun tidak jarang pula orang yang tidak paham memanfaatkan setiap bagian dari kelapa. Air kelapa misalnya, justru hanya menjadi limbah karena bingung memanfaatkannya. Padahal air kelapa justru sangat berkhasiat bagi kesehatan dan kebugaran tubuh.
Nah, agar air kelapa tidak terbuang percuma, anda perlu tahu apa saja khasiat dan kegunaannya. Inilah tujuh alasan kenapa anda perlu minum air kelapa :

Air kelapa ternyata lebih bernutrisi ketimbang susu penuh (whole milk) karena tidak mengandung kolestrol dan rendah lemak.

Air kelapa dapat memperbaiki sirkulasi darah dan dikenal mampu membersihkan saluran pencernaan.
Air kelapa tidak hanya akan membuat sistem kekebalan tubuh anda lebih baik, tetapi juga membantu tubuh melawan beberapa jenis virus penyebab jenis penyakit.

Jika anda mengidap penyakit batu ginjal, biasakanlah meminum air kelapa secara rutin. Kebiasaan meminum air kelapa akan membantu memecah batu ginjal dan memudahkan mereka keluar dari tubuh.
Air kelapa juga dikenal sejak dahulu dapat menyembuhkan gangguan saluran kencing?Segelas air kelapa akan meredakan rasa sakit akibat susah kencing.

Jika anda masih merasa pusing karena mabuk, tak ada yang bisa memulihkan dengan cepat selain mengonsumsi air kelapa.

Air kelapa yang rasanya lembut sangat kaya akan elektrolit dan potassium. Potassium dapat membantu tubuh mengatur tekanan darah dan fungsi organ jantung.

Dilema Air Bersih

Tidak ada kehidupan tanpa air. Manusia, tumbuh-tumbuhan, atau binatang butuh air untuk hidup. Namun, justru ini ironisnya. Di bumi yang 70 persen wilayahnya terdiri dari air, kehidupan umat manusia kini justru terancam karena terbatasnya air bersih yang bisa dikonsumsi. Air bersih dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan minum, memasak, dan kebersihan badan. Ketika air di bumi jumlahnya makin terbatas, air laut belum bisa dimanfaatkan optimal karena desalinasi air laut masih terlalu mahal.
Kita, warga di kota-kota besar di Indonesia, masih beruntung karena bisa nyaman mengonsumsi rata-rata 250 liter air per hari. Di negara besar seperti AS penduduknya memanjakan diri dengan mengonsumsi 265 liter air per hari di rumah mereka dan tambahan 378 liter air per hari untuk kegiatan di luar rumah. Akan tetapi, di beberapa negara ada lebih dari 2 juta orang yang harus berjuang sekadar untuk mendapatkan 20-30 liter air per hari untuk minum, memasak, dan mandi. Sekitar 30000 anak di berbagai belahan dunia mati karena berbagai penyakit yang terkait dengan ketersediaan air bersih.
Lalu apa hubungan ketersediaan air dengan pemanasan global? Pemanasan global sendiri sebenarnya merupakan fenomena peningkatan suhu bumi karena terjadinya efek rumah kaca akibat lonjakan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH), nitro oksida (NO), dan CFC, sehingga panas matahari terperangkap di atmosfer. Panas inilah yang memberi dampak serius pada lingkungan, seperti pelelehan es di kutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun, peningkatan hujan dan banjir, serta perubahan iklim ekstrim.
Di tengah perubahan iklim ekstrem dan cuaca ekstrem itulah ketersediaan air bersih menjadi genting. Kekeringan ekstrem menyebabkan keringnya sumber air di banyak tempat. Sementara itu, banjir yang melanda banyak bagian dunia juga menyebabkan air hujan terbuang percuma karena akhirnya masuk ke laut. Persoalan air bersih di kota menjadi lebih genting kondisinya. Tak usah jauh-jauh, bicara Jakarta saja, masyarakat yang terjangkau pelayanan air bersih dari Perusahaan Air Minum (PAM) baru 59 persen. Lebih dari 40 persen warga Jakarta dibiarkan memenuhi kebutuhan dengan menyedot air dari sumber air di dalam tanah atau dari sungai yang sarat pencemaran. Sementara itu, dengan pengawasan minim, praktik-praktik pengisapan air tanah makin tidak terkendali sehingga kini sudah memenuhi 70 persen kebutuhan warga. Padahal air tanah merupakan salah satu sumber daya yang bersifat terbatas. Adapun pemulihan air tanah juga sulit. Pemulihan atau pengisian kembali air tanah hanya bisa didapat dari air hujan, yang sebagian meresap ke dalam tanah, dengan jumlah tergantung dar jenis permukaan tanah atau beton.
Sementara itu, untuk air permukaan di sungai, danau, atau mata air, kondisinya sama memprihatinkan. Lepas dari kualitas air permukaan yang juga menjadi masalah besar, akibat pencemaran berbagai industri dan limbah rumah tangga, ketersediaannya pun makin terbatas. Kita terjebak pada perilaku dan kebiasaan hidup yang tidak mendukung keseimbangan alam. Misal, membuang limbah dan sampah ke tanah atau ke sungai, tidak membuat kawasan resapan air, tidak hidup secara bersih sehat dan ramah lingkungan, karena belum ada kesadaran yang belum terbangun. Ini memunculkan tantangan terbesar umat manusia, yaitu menemukan teknologi yang tepat bukan hanya sekadar ramah lingkungan tetapi dengan kesadaran bahwa kita bergantung pada alam sehingga keseimbangannya perlu dijaga.