Sebuah studi yang dilakukan oleh Synovate untuk Microsoft menunjukkan, kaum muda Asia yang berusia 15-24 tahun menghabiskan rata-rata lima jam per hari untuk online (OL) di internet. Berikut adalah tips bagi anda pengguna aktif dunia maya, yang selalu ingin terkoneksi dengan jejaring sosial anda aga menjadi bintang dalam pergaulan sosial online.
Bersikaplah selektif. Banyak sekali jejaring sosial di luar sana. Anda perlu mempelajari pilihan populer yang ada dalam web, seperti Facebook, Ning, Linkedln, Twitter, De.li.cious, Flickr, dan Picasa Web. Kemudian tanyakan pada diri anda, apa yang dibutuhkan dari jejaring sosial tersebut. Apakah menambah teman, mempromosikan hasil karya, atau mencurahkan berbagai gagasan? Jika jawabannya iya, mungkin anda harus mempertimbangkan Windows Live Home page, Facebook, MySpace, atau Friendster.
Pandai-pandailah menampilkan profil. Tidak masalah memasang foto yang menarik dan menulis profil secara detail, namun jika identitas diri yang ada terlalu berlebihan, maka justru akan menarik para cyber-stalkers. Karena itu, buatlah pengaturan privasi secara baik.
Tetap aktif itu penting. Pastikan bahwa anda berhubungan dengan teman-teman secara rutin, misalnya, ikut ambil dalam diskusi online, memperbaharui status anda, atau turut berpartisipasi dalam memberi pendapat dari waktu ke waktu. Satu lagi hal yang penting adalah jangan membanjiri teman-temanmu dengan link, pesan, komentar, dan konten. Takutnya, anda malah dicap sebagai spammer.
Have fun. Berhubungan dalam jejaring sosial secara online sangat menyenangkan. jadi buatlah segalanya menjadi sederhana. Menggunakan Windows Live untuk menggabungkan berbagai jejaring sosial yang anda punya dalam satu waktu adalah pilihan terbaik.
Rabu, 23 Desember 2009
Kamis, 17 Desember 2009
Mengikat Nusantara dari Laut dan Antariksa
Tidak mudah menyatukan kawasan negara dengan ribuan pulau di Nusantara. Saat ini memang kabel serat optik yang diyakini efisien dan berkapasitas besar, tetapi teknologi ini tidak murah dan tidak semua pulau bisa disinggahi. Kombinasi antara serat optik dan satelit tampaknya memang tetap menjadi solusi bagi kawasan seperti Nusantara ini.
Rencana membangun jaringan Palapa Ring Timur sampai saat ini tidak kunjung terealisasi, apalagi menyusul gelombang krisis ekonomi global. Palapa Ring Timur pada intinya adalah jaringan serat optik bawah laut di kawasan timur, sebelah timur Pulau jawa dan Sulawesi. Dengan kondisi ini, jaringan backbone di kawasa timur itu masih mengandalkan satelit sekalipun dengan bandwidth yang jauh lebih kecil dari serat optik. Peluncuran satelit Palapa D milik Indosat yang sukses merupakan salah satu satelit yang sekarang menjadi jembatan timur dan barat Indonesia, disamping beberapa satelit, seperti milik Telkom dan satelit milik asing.
Selain menjadi backbone telekomunikasi timur-barat, satelit memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Boleh dibilang dengan Palapa D yang lebih bertenaga dibandingkan dengan Palapa C2 yang digantikan masih sangat bermanfaat bagi para broadcaster, selain merupakan upaya membuat tidak lagi ada blank spot di Tanah Air.
Palapa D saat ini sudah digunakan 10 dari 12 broadcaster Indonesia, termasuk beberapa broadcaster asing. Dikatakan sangat bertenaga karena dengan daya 70 watt sudah bisa uplink ke satelit, padahal dengan C2 seperti stasiun RCTI dibutuhkan setidaknya 180 watt.
Satelit yang ditempatkan di 113 derajat BT ini memiliki kapasitas lebih besar, dibuat Thales Alenia Space, France. Dengan 40 transponder, terdiri dari 24 standard C-band, 11 extended C-band, dan 5 ku-band. Wilayah yang dijangkau mulai dari Indonesia, negara-negara ASEAN, Asia Pasifik, Timur Tengah, sampai Australia.
Jakabare
Jika di kawasan Timur Indonesia Indosat lebih mengandalkan satelit, berbeda untuk kawasan barat. Di kawasan barat lebih diandalkan FO (fiber optic) bawah laut sebagai backbone komunikasi.
Pembangunan jaringan FO yang mereka beri nama Jakabare, yang merupakan singkatan dari Jakarta, Kalimantan, Batam, dan Singapura, sempat terlambat karena adanya perubahan manajemen di perusahaan itu. Namun, akhirnya berhasil diselesaikan berbarengan dengan mulai beroperasinya Palapa D pada 28 Oktober lalu bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Sistem Komunikasi Kabel Laut Jakabare sepanjang 1300 km memiliki kapasitas terpasang 160 Gbps dan kapasitas bisa diperbesar sampai 1.2 Terabps. Jaringan ini memiliki titik pendaratan di Tanjung Pakis (Karawang, Jawa Barat), Tanjung Bembam (Batam), dan untuk Singapura pendaratannya di Changi.
Jaringan FO berfungsi sebagai redundant atau back up untuk jaringan intrnasional yang dimiliki Indosat. Semua jaringan FO perusahaan ini sudah menggunakan sistem ring sehingga jika ada yang putus, akan langsung diambil alih oleh jaringan FO lain. Satelit bisa menjadi back up jika FO mengalami gangguan.
Sinergi dua teknologi ini tampaknya merupakan senjata ampuh untuk mengikat kawasan Nusantara yang terpisah-pisah oleh lautan. Apalagi kedua backbone ini sudah menggunakan teknologi baru yang jika dibutuhkan bisa dilipatgandakan kapasitasnya.
Selain kedua jaringan yang menunjang di belakang, mereka juga sudah mampu memperkenalkan teknologi baru menyangkut akses konsumen ke jaringan. Mereka baru saja memperkenalkan teknologi High Speed Data Access plus (HSDPA+) yang akan semakin mempercepat komunikasi 3.5G mereka.
Dalam demo mereka bulan lau berhasil dicapai kecepatan download 21 Mbps dan upload daya hingga 5.8 Mbps yang memungkinkan pengiriman gambar bergerak. Ini merupakan peningkatan dari teknologi HSDPA yang kecepatan download maksimal hanya 14.4 Mbps dan upload hanya 1.4 Mbps.
Peningkatan ini jelas akan sangat menghemat waktu menjelajah internet dan diharapkan penyumbatan di base transceiver station (BTS) juga semakin berkurang.
Rencana membangun jaringan Palapa Ring Timur sampai saat ini tidak kunjung terealisasi, apalagi menyusul gelombang krisis ekonomi global. Palapa Ring Timur pada intinya adalah jaringan serat optik bawah laut di kawasan timur, sebelah timur Pulau jawa dan Sulawesi. Dengan kondisi ini, jaringan backbone di kawasa timur itu masih mengandalkan satelit sekalipun dengan bandwidth yang jauh lebih kecil dari serat optik. Peluncuran satelit Palapa D milik Indosat yang sukses merupakan salah satu satelit yang sekarang menjadi jembatan timur dan barat Indonesia, disamping beberapa satelit, seperti milik Telkom dan satelit milik asing.
Selain menjadi backbone telekomunikasi timur-barat, satelit memiliki fungsi yang tidak tergantikan. Boleh dibilang dengan Palapa D yang lebih bertenaga dibandingkan dengan Palapa C2 yang digantikan masih sangat bermanfaat bagi para broadcaster, selain merupakan upaya membuat tidak lagi ada blank spot di Tanah Air.
Palapa D saat ini sudah digunakan 10 dari 12 broadcaster Indonesia, termasuk beberapa broadcaster asing. Dikatakan sangat bertenaga karena dengan daya 70 watt sudah bisa uplink ke satelit, padahal dengan C2 seperti stasiun RCTI dibutuhkan setidaknya 180 watt.
Satelit yang ditempatkan di 113 derajat BT ini memiliki kapasitas lebih besar, dibuat Thales Alenia Space, France. Dengan 40 transponder, terdiri dari 24 standard C-band, 11 extended C-band, dan 5 ku-band. Wilayah yang dijangkau mulai dari Indonesia, negara-negara ASEAN, Asia Pasifik, Timur Tengah, sampai Australia.
Jakabare
Jika di kawasan Timur Indonesia Indosat lebih mengandalkan satelit, berbeda untuk kawasan barat. Di kawasan barat lebih diandalkan FO (fiber optic) bawah laut sebagai backbone komunikasi.
Pembangunan jaringan FO yang mereka beri nama Jakabare, yang merupakan singkatan dari Jakarta, Kalimantan, Batam, dan Singapura, sempat terlambat karena adanya perubahan manajemen di perusahaan itu. Namun, akhirnya berhasil diselesaikan berbarengan dengan mulai beroperasinya Palapa D pada 28 Oktober lalu bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda.
Sistem Komunikasi Kabel Laut Jakabare sepanjang 1300 km memiliki kapasitas terpasang 160 Gbps dan kapasitas bisa diperbesar sampai 1.2 Terabps. Jaringan ini memiliki titik pendaratan di Tanjung Pakis (Karawang, Jawa Barat), Tanjung Bembam (Batam), dan untuk Singapura pendaratannya di Changi.
Jaringan FO berfungsi sebagai redundant atau back up untuk jaringan intrnasional yang dimiliki Indosat. Semua jaringan FO perusahaan ini sudah menggunakan sistem ring sehingga jika ada yang putus, akan langsung diambil alih oleh jaringan FO lain. Satelit bisa menjadi back up jika FO mengalami gangguan.
Sinergi dua teknologi ini tampaknya merupakan senjata ampuh untuk mengikat kawasan Nusantara yang terpisah-pisah oleh lautan. Apalagi kedua backbone ini sudah menggunakan teknologi baru yang jika dibutuhkan bisa dilipatgandakan kapasitasnya.
Selain kedua jaringan yang menunjang di belakang, mereka juga sudah mampu memperkenalkan teknologi baru menyangkut akses konsumen ke jaringan. Mereka baru saja memperkenalkan teknologi High Speed Data Access plus (HSDPA+) yang akan semakin mempercepat komunikasi 3.5G mereka.
Dalam demo mereka bulan lau berhasil dicapai kecepatan download 21 Mbps dan upload daya hingga 5.8 Mbps yang memungkinkan pengiriman gambar bergerak. Ini merupakan peningkatan dari teknologi HSDPA yang kecepatan download maksimal hanya 14.4 Mbps dan upload hanya 1.4 Mbps.
Peningkatan ini jelas akan sangat menghemat waktu menjelajah internet dan diharapkan penyumbatan di base transceiver station (BTS) juga semakin berkurang.
Asia Kuasai Ladang Minyak Irak
Perusahaan minyak Asia, Petronas dari Malaysia dan CNPC dari China, berhasil memenangi empat dari tujuh kontrak pengelolaan ladang minyak pemerintah Irak. Baik Petronas maupun CNPC merupakan perusahaan milik negara Keduanya berhasil menyisihkan perusahaan-perusahaan minyak dari AS dalam tender tersebut.
Petronas Malaysia berhasil memenangi kontrak untuk mengelola ladang Majnoon, Halfaya, Garraf, dan Badra. Jika digabungkan, keempat ladang minyak tersebut memiliki cadangan minyak mentah sebesar 17,65 miliar barrel dan dapat menghasilkan minyak sebesar 2,7 juta barrel per hari.
CNPC berhasil memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 2 yang memiliki cadangan sebesar 12,9 miliar barrel. Selain itu, CNPC juga merupakan pemegang saham utama dalam konsorsium yang memenangi kontrak di ladang Halfaya. Selain kedua kontrak pengelolaan minyak CNPC juga telah meneken kontrak kerja sama dengan BP, perusahaan minyak asal Inggris, untuk membantu mengelola ladang minyak terbesar Irak, Rumaila. Perusahaan India ONGC dan Oil India sebenarnya juga mengajukan penawaran, tetapu gagal bersaing.
Alex Munton, analis Timur Tengah dari lembaga riset Mackenzie, mengatakan, perusahaan Asia umumnya agresif dan berani, sedangkan perusahaan barat umumnya sangat berhati-hati. Hal itulah yang membuat perbedaan persepsi di antara perusahaan barat dan asia terhadap kontrak yang ditawarkan oleh Irak. Apa arti Irak bagi China? tidak lain adalah akses lebih besar terhadap sumber energi. Isu yang lebih besar soal kontrak itu adalah ketahanan energi.
Perusahaan barat yang ikut serta dalam tender ini adalah Shell Belanda yang bermitra dengan Petronas di ladang Majnoon, Total Perancis yang menguasai 25 persen saham pada ladang Halfaya, dan StatoilHydro dari Norwegia yang memiliki saham minoritas pada ladang Qurna Barat 2.
Hanya ada satu perusahaan AS, yaitu Occidental Oil, yang turut dalam tender ini dan gagal menang pada tender di ladang Halfaya. Sebagian perusahaan AS sudah pernah turut serta dalam tender Juni lalu. Exxon Mobile misalnya, memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 1.
Petronas Malaysia berhasil memenangi kontrak untuk mengelola ladang Majnoon, Halfaya, Garraf, dan Badra. Jika digabungkan, keempat ladang minyak tersebut memiliki cadangan minyak mentah sebesar 17,65 miliar barrel dan dapat menghasilkan minyak sebesar 2,7 juta barrel per hari.
CNPC berhasil memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 2 yang memiliki cadangan sebesar 12,9 miliar barrel. Selain itu, CNPC juga merupakan pemegang saham utama dalam konsorsium yang memenangi kontrak di ladang Halfaya. Selain kedua kontrak pengelolaan minyak CNPC juga telah meneken kontrak kerja sama dengan BP, perusahaan minyak asal Inggris, untuk membantu mengelola ladang minyak terbesar Irak, Rumaila. Perusahaan India ONGC dan Oil India sebenarnya juga mengajukan penawaran, tetapu gagal bersaing.
Alex Munton, analis Timur Tengah dari lembaga riset Mackenzie, mengatakan, perusahaan Asia umumnya agresif dan berani, sedangkan perusahaan barat umumnya sangat berhati-hati. Hal itulah yang membuat perbedaan persepsi di antara perusahaan barat dan asia terhadap kontrak yang ditawarkan oleh Irak. Apa arti Irak bagi China? tidak lain adalah akses lebih besar terhadap sumber energi. Isu yang lebih besar soal kontrak itu adalah ketahanan energi.
Perusahaan barat yang ikut serta dalam tender ini adalah Shell Belanda yang bermitra dengan Petronas di ladang Majnoon, Total Perancis yang menguasai 25 persen saham pada ladang Halfaya, dan StatoilHydro dari Norwegia yang memiliki saham minoritas pada ladang Qurna Barat 2.
Hanya ada satu perusahaan AS, yaitu Occidental Oil, yang turut dalam tender ini dan gagal menang pada tender di ladang Halfaya. Sebagian perusahaan AS sudah pernah turut serta dalam tender Juni lalu. Exxon Mobile misalnya, memenangi kontrak pengelolaan ladang Qurna Barat 1.
Langganan:
Postingan (Atom)